Membantu Individu & Keluarga Mengambil Keputusan Keuangan Yang Bijak

Daftar Sesi Konsultasi Keuangan

Gratis!

Lintar Financial Blog

Financial Infidelity

Ketika Uang Menjadi Rahasia dalam Rumah Tangga

Oleh Agus Helly, MM, CFP®, IFP®, CREC – Founder Lintar Financial

financial infidelity

Ketika kita punya pasangan, bisa jadi kita tidak pernah berselingkuh secara fisik atau emosional. Tetapi apakah kita pernah “berselingkuh” secara finansial? Ada sebuah pertanyaan sederhana yang mungkin membuat banyak pasangan tidak nyaman: apakah pasangan Anda tahu kondisi keuangan Anda yang sebenarnya? Bukan hanya tahu berapa gaji Anda. Tetapi tahu berapa utang Anda. Tahu investasi Anda. Tahu kewajiban Anda kepada orang tua atau saudara. Tahu rekening yang Anda miliki. Tahu keputusan finansial besar yang Anda buat. Dan yang paling penting: Apakah pasangan Anda tahu karena Anda memang terbuka, atau hanya tahu apa yang Anda pilih untuk diberitahukan? Di sinilah kita mulai mengenal istilah financial infidelity, atau perselingkuhan keuangan. Istilahnya mungkin terdengar berlebihan. Tetapi fenomenanya nyata.

Ketika “selingkuh” tidak selalu tentang orang ketiga

Financial infidelity secara sederhana merujuk pada perilaku ketika seseorang menyembunyikan atau melakukan keputusan finansial yang diperkirakan tidak akan disetujui pasangannya. Dan ini bukan sekadar teori. Indonesia Consumer Finance Report 2023 dari LM FEB UI dan TSurvey menemukan bahwa 41,4% responden yang sudah menikah pernah melakukan keputusan finansial yang mungkin tidak disetujui pasangan, sementara 35,6% mengaku sengaja menyembunyikan keputusan finansial tersebut dari pasangan. Secara keseluruhan, laporan tersebut mengestimasi sekitar 38,4% responden terindikasi melakukan financial infidelity.

Angka tersebut memang berasal dari survei 2023, bukan statistik nasional terbaru 2026. Jadi kita tidak boleh mengklaim bahwa “38,4% orang Indonesia saat ini melakukan financial infidelity”. Tetapi angka tersebut cukup untuk menunjukkan satu hal: financial secrecy dalam rumah tangga bukan fenomena yang bisa kita anggap remeh. Bahkan laporan tersebut menemukan alasan yang sering muncul adalah antisipasi ketidaksetujuan pasangan dan keinginan menghindari konfrontasi. Dan di sinilah ceritanya menjadi jauh lebih menarik. Karena mungkin masalahnya bukan: saya ingin menipu pasangan, tetapi: saya tahu pasangan saya tidak akan setuju.

Privacy atau Secrecy?

Ini batas yang sangat penting. Setelah menikah, apakah seseorang masih boleh memiliki rekening pribadi?

Tentu saja boleh.

Pernikahan tidak otomatis berarti seseorang kehilangan seluruh ruang pribadi, termasuk ruang finansial. Pasangan bisa saja sepakat memiliki:

  • Rekening bersama,
  • Rekening pribadi,
  • Uang pribadi,
  • Budget personal,
  • Dan keputusan tertentu yang tidak perlu dipertanggungjawabkan satu per satu.

Itu adalah financial privacy.

Masalahnya muncul ketika privacy berubah menjadi secrecy. Misalnya:

  • Saya punya utang besar, tetapi saya sengaja tidak memberitahu pasangan karena takut dia marah.
  • Saya rutin memberikan uang kepada keluarga saya dalam jumlah besar, tetapi saya menyembunyikannya dari pasangan.
  • Saya punya investasi yang nilainya signifikan, tetapi pasangan tidak tahu karena saya ingin mengelolanya sendiri.

Di sini masalahnya bukan lagi sekadar privasi. Karena keputusan tersebut dapat memengaruhi kehidupan keluarga.

Privacy adalah hak untuk memiliki ruang pribadi. Secrecy adalah menyembunyikan informasi yang seharusnya diketahui karena berdampak pada kehidupan bersama. Dan financial infidelity biasanya berada di wilayah kedua.

Yang disembunyikan mungkin hanya Rp5 juta, tetapi yang rusak bisa jauh lebih mahal.

financial infidelity

Bayangkan seorang suami menyembunyikan utang Rp50 juta. Atau seorang istri diam-diam menggunakan Rp10 juta untuk membantu keluarganya. Secara nominal, mungkin masih bisa diselesaikan. Tetapi ketika pasangan mengetahuinya, pertanyaannya bisa berubah: Kenapa kamu tidak cerita? Lalu menjadi: Apa lagi yang kamu sembunyikan? Dan akhirnya: Selama ini saya bisa percaya kamu atau tidak? Ini yang membuat financial infidelity berbeda dari sekadar kesalahan mengatur uang.

Uang bisa dihitung. Kepercayaan jauh lebih sulit dihitung.

Penelitian akademik terbaru mengenai financial infidelity juga melihatnya sebagai fenomena pasangan, bukan sekadar perilaku individu. Ketidakseimbangan antara pasangan dalam kecenderungan melakukan financial infidelity dikaitkan dengan kesejahteraan finansial dan hubungan pasangan. Dengan kata lain: Ketika satu orang menyimpan rahasia finansial, dampaknya tidak berhenti pada rekening orang tersebut. Pasangannya ikut terkena dampaknya.

Mengapa orang yang mencintai pasangannya justru menyembunyikan uang?

Ini bagian yang paling manusiawi. Kita mungkin berpikir: kalau dia mencintai pasangannya, kenapa dia berbohong? Karena manusia tidak selalu menyembunyikan sesuatu karena tidak mencintai. Kadang justru karena takut kehilangan hubungan. Takut dimarahi. Takut dianggap boros. Takut dianggap gagal. Takut dikontrol. Takut keputusan finansialnya ditolak. Atau malu karena memiliki utang.

Ada pula yang berpikir: saya sudah bekerja keras. Saya berhak punya uang yang bisa saya gunakan sendiri. Dan ada yang merasa: kalau saya cerita, pasti terjadi pertengkaran. Jadi financial infidelity kadang lahir dari kombinasi: fear + shame + guilt + autonomy + conflict avoidance.

Namun kita juga harus jujur: alasan dapat menjelaskan perilaku, tetapi alasan tidak selalu membenarkan perilaku. Kalau keputusan tersebut berdampak material terhadap keluarga, menyembunyikannya tetap menciptakan masalah.

“Ini uang saya. Saya yang cari.”

financial infidelity

Ini mungkin salah satu kalimat yang paling sering muncul dalam konflik keuangan rumah tangga. Dan menurut saya, kalimat ini tidak sepenuhnya salah. Seseorang tetap boleh memiliki penghasilan dan ruang finansial pribadi. Tetapi setelah menikah, pertanyaannya bukan hanya: siapa yang mendapatkan uang? Pertanyaan yang lebih penting adalah: siapa yang akan menanggung akibat dari keputusan menggunakan uang tersebut?

Kalau seseorang membeli sesuatu dengan uang pribadinya dan keputusan itu tidak mengganggu kebutuhan keluarga, tentu berbeda. Tetapi kalau keputusan tersebut menyebabkan:

  • Cicilan terganggu,
  • Dana pendidikan tidak tersedia,
  • Proteksi tidak memadai,
  • Investasi keluarga terganggu,
  • Atau pasangan harus menanggung utangnya,

Maka dampaknya sudah bukan lagi individual. Karena itu prinsip yang lebih sehat bukan: semua uang harus menjadi milik bersama. Tetapi: uang boleh memiliki ruang pribadi, tetapi tanggung jawab finansial harus memiliki ruang bersama.

Ketika berbakti kepada orang tua menjadi rahasia

Ini mungkin bagian yang paling sensitif dalam konteks Indonesia. Seorang anak membantu orang tua. Memberikan uang setiap bulan. Membayar biaya kesehatan. Membantu adik. Membantu keluarga yang sedang kesulitan. Secara nilai, itu bisa menjadi sesuatu yang sangat baik. Tetapi bagaimana kalau semuanya dilakukan diam-diam dari pasangan?

Di sinilah konflik bisa muncul. Karena bagi seseorang: saya sedang berbakti kepada orang tua. Tetapi bagi pasangannya: kamu mengambil uang keluarga tanpa berdiskusi dengan saya. Keduanya bisa merasa benar. Dan itulah yang membuat konflik keluarga begitu sulit. Bahkan survei Sun Life Indonesia 2026 menunjukkan betapa kuatnya tekanan keluarga dalam kehidupan finansial. 96% perempuan Indonesia yang disurvei memperkirakan akan menopang perawatan orang tua lansia sekarang atau di masa depan; tetapi hanya 26% yang telah menyisihkan setidaknya 10% penghasilannya untuk kebutuhan tersebut. Survei yang sama menemukan 57% responden perempuan pernah mengabaikan kebutuhan medisnya demi anak atau orang tua/lansia.

Artinya, family obligation bukan sekadar konsep. Ia benar-benar memengaruhi keputusan finansial seseorang. Tetapi financial planning perlu membantu kita menjawab: bagaimana saya bisa berbakti kepada orang tua tanpa menghancurkan masa depan keluarga saya sendiri? Bukan memilih: orang tua ATAU pasangan. Tetapi merancang: orang tua DAN pasangan DAN anak, sesuai kemampuan yang realistis.

Bagaimana kalau pasangan memang tidak sehat dalam mengelola uang?

Nah, ini wilayah abu-abu yang sering kita abaikan. Bagaimana kalau seseorang menyembunyikan uang karena pasangannya:

  • Sangat boros,
  • Impulsif,
  • Suka berutang,
  • Tidak disiplin,
  • Atau selalu mengambil uang yang tersedia?

Apakah menyembunyikan uang menjadi benar? Jawabannya: tidak otomatis. Tetapi kita juga tidak boleh naif dan mengatakan: buka saja semua rekening dan serahkan semua uang. Itu bukan solusi financial planning. Solusinya adalah financial boundaries.
Misalnya:

  • Shared money: untuk kebutuhan keluarga dan tujuan bersama.
  • Personal money: untuk kebutuhan pribadi masing-masing.
  • Major financial decisions: utang besar, investasi material, menjaminkan aset, bantuan keluarga besar, pembelian aset, dan keputusan lain yang memiliki konsekuensi bagi keluarga harus dibicarakan.

Jadi bukan control tetapi clarity + boundaries + accountability. Dan jika masalahnya sudah sampai pada bentuk financial abuse atau kontrol ekonomi yang membahayakan pasangan, tentu pendekatannya bukan sekadar membuat budgeting bersama. Itu sudah membutuhkan perhatian yang berbeda.

Financial planning tidak bisa dibangun di atas rahasia

financial infidelity

Ini mungkin bagian paling penting dari seluruh pembahasan. Bayangkan seorang financial planner menyusun rencana keluarga berdasarkan:

  • Income: Rp50 juta.
  • Pengeluaran: Rp30 juta.
  • Investasi: Rp500 juta.
  • Utang: Rp5 juta.

Secara spreadsheet terlihat sehat. Tetapi kemudian diketahui:

  • Ada utang lain Rp150 juta,
  • Ada kewajiban kepada orang tua Rp5 juta setiap bulan,
  • Ada investasi berisiko tinggi yang tidak diketahui pasangan,
  • Ada penghasilan yang sebenarnya tidak stabil.

Maka financial plan tadi sebenarnya dibangun di atas informasi yang salah. Inilah mengapa: Financial transparency bukan tujuan akhir financial planning. Financial transparency adalah fondasi agar financial planning tidak dibangun di atas fakta yang salah.

Kita tidak bisa menghitung kebutuhan retirement dengan benar kalau kita tidak tahu kewajiban keluarga. Kita tidak bisa menghitung kebutuhan proteksi kalau kita tidak tahu siapa yang bergantung pada income kita. Kita tidak bisa menghitung investasi kalau kita tidak tahu utang yang sebenarnya.Dan kita tidak bisa membuat estate plan yang baik kalau aset dan kewajiban tidak diketahui oleh orang yang relevan.

Indonesia semakin financial literate. Tetapi apakah kita semakin financially transparent?

Ini pertanyaan yang menarik. OJK, LPS, dan BPS melaporkan bahwa indeks literasi keuangan Indonesia naik menjadi 69,57% pada 2026, sementara inklusi keuangan mencapai 93,61%. Artinya semakin banyak masyarakat memahami dan menggunakan produk serta layanan keuangan. Itu kabar baik. Tetapi financial literacy tidak otomatis berarti financial harmony.

Kita bisa tahu tentang: saham, reksa dana, asuransi, deposito, properti, cryptocurrency, retirement planning, tetapi masih takut berkata kepada pasangan: sebenarnya saya punya utang. Atau: sebenarnya saya rutin memberikan uang kepada keluarga saya. Atau: sebenarnya saya tidak nyaman dengan cara kita mengelola uang. Maka mungkin tantangan financial planning berikutnya bukan hanya: financial literacy, tetapi: financial communication.

Jadi, apakah pasangan harus membuka semua rekening?

financial infidelity

Tidak. Financial transparency bukan berarti menghilangkan seluruh privasi. Yang lebih penting adalah pasangan mengetahui informasi yang material bagi kehidupan bersama. Setiap pasangan bisa memiliki sistem yang berbeda.
Misalnya:

  • Rekening bersama untuk kebutuhan rumah tangga;
  • Rekening pribadi masing-masing;
  • Budget personal yang bebas digunakan;
  • Batas nominal transaksi yang harus dibicarakan;
  • Semua utang material wajib diketahui;
  • Investasi material wajib didiskusikan;
  • Kewajiban rutin kepada keluarga besar dibicarakan;
  • Financial review dilakukan secara berkala.

Tidak ada satu sistem yang cocok untuk semua keluarga. Yang penting: aturan mainnya disepakati sebelum konflik terjadi.

Kalau sudah terlanjur ada rahasia, mulai dari mana?

Bukan dengan menyerahkan seluruh uang. Bukan juga dengan menyalahkan pasangan. Mulailah dengan fakta. Berapa aset? Berapa utang? Berapa penghasilan? Berapa kewajiban? Siapa saja yang bergantung? Apa saja yang selama ini disembunyikan? Kemudian mulai percakapan.

Bukan: kamu pembohong, tetapi: ada bagian dari keuangan kita yang selama ini tidak saya ceritakan dengan transparan. Saya ingin kita perbaiki.

Setelah itu buat sistem baru. Dan jangan berharap kepercayaan kembali hanya karena satu percakapan. Kepercayaan biasanya membutuhkan: transparency → consistency → accountability → time.

The Real Cost of Financial Infidelity

Mungkin inilah yang paling perlu kita sadari. Kita sering menghitung: berapa harga rumah, berapa harga mobil, berapa return investasi, berapa besar premi asuransi? Tetapi jarang menghitung: berapa harga sebuah rahasia finansial? Utang yang disembunyikan bisa menimbulkan bunga. Pengeluaran yang disembunyikan bisa merusak cash flow. Investasi yang disembunyikan bisa meningkatkan risiko. Tetapi kebohongan finansial memiliki biaya lain: hilangnya rasa aman. Dan rasa aman adalah salah satu fondasi terpenting dalam keluarga.

Uang Seharusnya Menjadi Alat, Bukan Rahasia

financial infidelity

Pada akhirnya, kita menikah bukan hanya untuk membuat spreadsheet bersama. Kita menikah untuk membangun kehidupan bersama. Uang memang bagian penting dari kehidupan itu. Tetapi uang seharusnya menjadi alat untuk mencapai tujuan keluarga, bukan menjadi senjata untuk mengontrol pasangan, bukan menjadi alat untuk menghukum, dan bukan menjadi ruang rahasia yang perlahan menghancurkan kepercayaan. Kita tidak harus mengetahui setiap rupiah yang dibelanjakan pasangan. Tetapi kita perlu mengetahui hal-hal yang dapat mengubah masa depan kita bersama. Karena financial privacy masih bisa menjadi bagian dari hubungan yang sehat. Tetapi ketika privacy berubah menjadi secrecy, dan secrecy berubah menjadi deception, kita tidak lagi hanya berbicara tentang uang. Kita berbicara tentang trust. Dan mungkin ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting daripada: apakah pasangan saya tahu berapa uang yang saya punya? Pertanyaannya adalah: apakah pasangan saya memiliki informasi yang cukup untuk merasa aman membangun masa depan bersama saya?”

Karena kita bisa kehilangan uang dan mendapatkannya kembali. Kita bisa gagal dalam investasi dan belajar lagi. Kita bisa bangkrut dan membangun kembali. Tetapi ketika kepercayaan hilang, harganya jauh lebih mahal. Jangan biarkan uang menjadi rahasia di antara dua orang yang sedang berusaha membangun kehidupan bersama. Karena pada akhirnya, kita tidak hanya mengelola uang. Kita sedang mengelola kepercayaan yang dititipkan bersama uang tersebut.

Artikel ini merupakan bagian dari topik yang diangkat dalam program “Smart Financial Wisdom”, podcast edukasi keuangan bersama Smart FM Jakarta yang membahas isu ekonomi, personal finance, dan psychology of money dengan pendekatan yang ringan, relevan, dan berbasis data. Tonton siarannya di link ini: “Tonton siaran-nya di YouTube Smart Financial Wisdom“

Setiap individu dan keluarga memiliki struktur keuangan yang berbeda, dan keputusan yang tepat tidak selalu sama untuk semua orang. Jika Anda ingin memahami posisi keuangan Anda saat ini, serta langkah yang paling tepat untuk menjaga dan mengembangkan keuangan Anda, diskusi yang terarah dapat menjadi langkah awal yang baik, team Lintar Financial siap membantu Anda melihat gambaran yang lebih utuh dan terstruktur. Silakan hubungi kami melalui email, whatsApp, atau instagram kami.

Tentang Penulis
Agus Helly, MM, CFP®, IFP, CREC

Founder Lintar Financial
Agus Helly adalah seorang Certified Financial Planner dan financial educator dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di industri keuangan. Ia memiliki latar belakang profesional di perbankan dan asuransi internasional seperti Citibank, Standard Chartered Bank, Tokio Marine, dan Commonwealth Bank.

Agus Helly adalah award-winning mentor selama 5 tahun berturut-turut untuk program pelatihan & sertifikasi perencanaan keuangan Indonesia yang disupport oleh Financial Planning Standard Board (FPSB) Indonesia. Melalui Lintar Financial, Agus Helly berfokus pada edukasi keuangan, pendampingan perencanaan keuangan, mentoring sertifikasi profesi, serta advisory bagi individu, profesional, keluarga, dan organisasi agar memiliki struktur keuangan yang lebih sehat, sadar, dan berorientasi jangka panjang.

Bermanfaat? Bagikan ke Temanmu:

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mulai Upgrade Skill Finansialmu Hari Ini

Upgrade pemahaman keuanganmu dengan bimbingan mentor berpengalaman dan materi yang mudah dipahami. Mulai langkahmu menuju sertifikasi profesional sekarang.