

Setiap kali memasuki bulan Muharram, kita kembali diingatkan pada salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Islam: hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Namun hijrah bukan sekadar perpindahan tempat.
Hijrah adalah keberanian untuk meninggalkan kebiasaan lama menuju kehidupan yang lebih baik. Hijrah adalah perubahan cara berpikir, perubahan perilaku, dan perubahan tujuan hidup. Pertanyaannya, bagaimana dengan kondisi keuangan kita hari ini? Apakah selama ini kita hanya sibuk mencari lebih banyak uang, tetapi belum pernah benar-benar memperbaiki hubungan kita dengan uang? Apakah hijrah keuangan cukup dilakukan dengan berpindah dari satu bank umum ke bank syariah, atau produk keuangan ke produk lainnya? Atau ada makna lain yang harus kita pahami?
Banyak orang berpikir bahwa masalah keuangan akan selesai ketika penghasilan meningkat. Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Ada orang yang penghasilannya pas-pasan, tetapi hidupnya tenang. Ada pula orang yang penghasilannya besar, tetapi selalu merasa kurang. Mengapa? Karena ketenangan finansial tidak hanya ditentukan oleh jumlah uang yang kita miliki. Ketenangan finansial juga dipengaruhi oleh hubungan emosional kita dengan uang.
Di sinilah hijrah keuangan menjadi relevan. Karena terkadang yang perlu diubah bukan jumlah uangnya, melainkan cara pandang kita terhadap uang.

Ketika mendengar istilah “hijrah keuangan”, banyak orang langsung berpikir tentang berpindah ke produk keuangan syariah. Tentu hal tersebut merupakan langkah yang baik. Namun hijrah keuangan tidak berhenti di sana. Karena seseorang bisa saja menggunakan produk syariah, tetapi tetap: konsumtif, impulsif, terjebak gengsi, berutang demi gaya hidup, atau selalu merasa tidak pernah cukup.
Hijrah keuangan bukan hanya tentang di mana kita menyimpan uang. Tetapi juga tentang: bagaimana kita mencari uang, bagaimana kita menggunakan uang, dan untuk apa uang itu kita gunakan.
Dalam Islam, perencanaan keuangan bukan sekadar “aktivitas mengatur pemasukan dan pengeluaran.” Perencanaan keuangan adalah bagian dari amanah sebagai seorang muslim. Landasan ini dapat kita pahami melalui QS. Al-Baqarah ayat 29–30. Allah SWT berfirman: “Dialah Allah yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untuk kamu…” (QS. Al- Baqarah: 29) Ayat ini mengingatkan bahwa seluruh harta (keuangan), sumber daya, dan rezeki pada hakikatnya berasal dari Allah (jangan merasa hanya karena hasil kerja keras kita). Kita bukan pemilik mutlak. Kita hanyalah penerima amanah.
Kemudian Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30)
Sebagai khalifah, manusia memiliki tanggung jawab untuk mengelola segala titipan Allah dengan bijaksana, termasuk harta dan kekayaan (keuangan). Islam tidak memandang harta sebagai sesuatu yang buruk. Sebaliknya, harta adalah alat untuk menjalankan amanah dan menciptakan kemaslahatan.
Islam juga mengajarkan bahwa kehidupan tidak berhenti di dunia ini. Ada kehidupan setelah kehidupan (life after life). Ada sebuah hari di mana nanti setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban: selama ini kekayaan dan rezeki kita, kita pakai untuk apa saja?. Apakah kita mengelola-nya dengan baik dan hati-hati, atau hanya untuk kesenangan kita saja?
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang hartanya: dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan.” (HR. Tirmidzi)
Karena itu, tujuan perencanaan keuangan dalam Islam bukan sekadar mencapai kekayaan. Tetapi agar kita mampu mempertanggungjawabkan amanah tersebut di hadapan Allah SWT.

Jika kita ingin berhijrah secara finansial, setidaknya ada tiga pertanyaan penting yang perlu kita renungkan.
Pertanyaan pertama bukan: “Berapa banyak uang yang saya hasilkan?”
Tetapi: “Bagaimana cara saya mendapatkan uang tersebut?”
Dalam Islam, sumber penghasilan harus: halal, jujur, adil, bebas dari riba, gharar, dan maysir, dan tidak merugikan orang lain. Keberkahan rezeki tidak hanya ditentukan oleh jumlahnya, tetapi juga oleh cara memperolehnya. Sebelum kita menunjuk jari kita kepada orang-orang yang tersangkut kasus korupsi dan lain-lain, ada baiknya kita bertanya pada diri kita: apakah cara saya kerja di kantor, berbisnis, berkarya dengan profesi saya, dan semua jenis pekerjaan saya menghasilkan uang halal?
Setelah mendapatkan rezeki, pertanyaan berikutnya adalah: “Ke mana uang itu pergi?” Islam mengajarkan keseimbangan. Tidak boros. Tidak kikir. Tidak berlebihan. Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, dan adalah pembelanjaan itu di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan: 67)
Ini sangat relevan untuk dipikirkan jika melihat perilaku masyarakat kita saat ini: belanja untuk gaya hidup, mencari pinjol untuk tujuan konsumtif, flexing di sosial media, dan lain-lain. Menggunakan uang dengan bijak berarti memastikan bahwa pengeluaran kita selaras dengan kebutuhan, prioritas, dan tujuan hidup.
Inilah pertanyaan yang paling mendasar. Apakah uang menjadi tujuan hidup? Ataukah uang adalah alat untuk menjalani hidup yang lebih bermakna? Dalam Islam, harta dipandang sebagai amanah. Bukan identitas. Bukan ukuran nilai diri. Bukan tujuan akhir. Uang adalah sarana untuk beribadah, menjaga keluarga, membantu sesama, dan menciptakan manfaat yang lebih luas.

Segala perubahan besar selalu dimulai dari cara berpikir. Hijrah mindset berarti berpindah:
Kita hidup di era media sosial, di mana kesuksesan sering diukur dari apa yang terlihat. Rumah yang lebih besar. Mobil yang lebih baru. Liburan yang lebih mewah. Padahal kita sering membandingkan kondisi nyata kita dengan tampilan terbaik orang lain. Jika pola pikir kita selalu merasa tertinggal, maka sebanyak apa pun uang yang dimiliki tidak akan pernah terasa cukup.
Mindset yang baik perlu diwujudkan dalam tindakan nyata. Hijrah perilaku berarti berpindah:
Kondisi keuangan kita hari ini adalah hasil dari keputusan-keputusan kecil yang kita ulang setiap hari. Karena itu, hijrah keuangan bukan perubahan besar yang dilakukan sekali. Hijrah keuangan adalah kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten.
Mulailah dengan langkah sederhana:
Tidak perlu sempurna. Yang penting mulai.
Inilah bagian yang paling sering terlupakan. Banyak orang tahu cara menghasilkan uang. Banyak orang tahu cara mengembangkan uang. Tetapi tidak banyak yang bertanya: “Untuk apa sebenarnya saya mencari uang?” Dalam Islam, harta adalah amanah. Uang bukan tujuan akhir. Uang adalah alat. Alat untuk:
Ketika uang menjadi tujuan utama, kita mudah merasa cemas. Tetapi ketika uang dipandang sebagai alat untuk mewujudkan nilai-nilai hidup yang penting, kita akan lebih mudah menemukan ketenangan.
Tahun baru Hijriah adalah waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah. Bukan hanya menghitung berapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan. Tetapi juga mengevaluasi hubungan kita dengan uang. Tanyakan pada diri sendiri:
Karena hijrah keuangan bukan tentang menjadi kaya dalam semalam. Hijrah keuangan adalah perjalanan panjang untuk menjadi pribadi yang lebih bijak dalam mengelola amanah.
Hijrah keuangan bukan sekadar berpindah produk dari bank konvensional ke bank syariah. Hijrah keuangan adalah perjalanan untuk memperbaiki tiga hal sekaligus:
Karena kelak, yang akan ditanyakan bukan hanya berapa banyak harta yang kita miliki. Tetapi juga:
Maka di tahun baru Hijriah ini, mungkin pertanyaan yang perlu kita renungkan bukan berapa banyak uang yang ingin saya miliki tahun ini? Tetapi bagaimana saya ingin mempertanggungjawabkan amanah ini kelak? Sebab tujuan akhir hijrah keuangan bukan sekadar kesejahteraan dunia. Melainkan keberhasilan dunia dan akhirat.
Artikel ini merupakan bagian dari topik yang diangkat dalam program “Smart Financial Wisdom”, podcast edukasi keuangan bersama Smart FM Jakarta yang membahas isu ekonomi, personal finance, dan psychology of money dengan pendekatan yang ringan, relevan, dan berbasis data. Tonton siarannya di link ini: “Saatnya Hijrah Keuangan! | Smart Financial Wisdom”
Setiap individu dan keluarga memiliki struktur keuangan yang berbeda, dan keputusan yang tepat tidak selalu sama untuk semua orang. Jika Anda ingin memahami posisi keuangan Anda saat ini, serta langkah yang paling tepat untuk menjaga dan mengembangkan keuangan Anda, diskusi yang terarah dapat menjadi langkah awal yang baik, team Lintar Financial siap membantu Anda melihat gambaran yang lebih utuh dan terstruktur. Silakan hubungi kami melalui email, whatsApp, atau instagram kami.
Founder Lintar Financial
Agus Helly adalah seorang Certified Financial Planner dan financial educator dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di industri keuangan. Ia memiliki latar belakang profesional di perbankan dan asuransi internasional seperti Citibank, Standard Chartered Bank, Tokio Marine, dan Commonwealth Bank.
Agus Helly adalah award-winning mentor selama 5 tahun berturut-turut untuk program pelatihan & sertifikasi perencanaan keuangan Indonesia yang disupport oleh Financial Planning Standard Board (FPSB) Indonesia. Melalui Lintar Financial, Agus Helly berfokus pada edukasi keuangan, pendampingan perencanaan keuangan, mentoring sertifikasi profesi, serta advisory bagi individu, profesional, keluarga, dan organisasi agar memiliki struktur keuangan yang lebih sehat, sadar, dan berorientasi jangka panjang.
Upgrade pemahaman keuanganmu dengan bimbingan mentor berpengalaman dan materi yang mudah dipahami. Mulai langkahmu menuju sertifikasi profesional sekarang.





