
Oleh Agus Helly, MM, CFP®, IFP®, CREC – Founder Lintar Financial

Ada satu hal menarik dari dunia investasi: ketika pasar sedang naik, banyak orang merasa dirinya investor yang hebat. Namun, ketika pasar jatuh tajam, keyakinan itu bisa berubah menjadi kecemasan, kebingungan, bahkan kepanikan.
Jumat, 16 Oktober, IHSG anjlok -11,57% ke level 5.185,11. Senin, 19 Oktober, IHSG kembali turun -3,64% hingga ditutup di 4.996,61, menembus level psikologis 5.000. Dalam sepekan hingga Jumat, indeks sudah turun sekitar -14,91%. Dalam beberapa hari terakhir, pasar modal Indonesia memberikan gambaran nyata tentang betapa cepatnya sentimen dapat berubah. IHSG mengalami penurunan tajam. Kekhawatiran mengenai evaluasi MSCI terhadap pasar saham Indonesia menjadi perhatian investor, dan tekanan terhadap rupiah menambah kecemasan di tengah ketidakpastian global. Setelah penurunan besar, pasar kembali mengalami penguatan tajam dalam satu hari.
Bagi sebagian investor, situasi ini merupakan peluang. Bagi yang lain, ini adalah alasan untuk menjual. Sementara itu, tidak sedikit orang yang hanya bisa bertanya-tanya: apakah sekarang saatnya membeli, menjual, atau menunggu?
Namun pertanyaan yang lebih penting bukanlah ke mana pasar akan bergerak besok? Pertanyaan yang lebih penting adalah: ketika pasar bergerak di luar kendali kita, apakah kita masih mampu mengendalikan keputusan finansial kita sendiri?
Pada 9 September lalu, kami menulis artikel yang membahas topik “Mengapa Banyak Orang Gagal dalam Investasi?”
Kita berbicara tentang berbagai kesalahan investor, mulai dari kurangnya pengetahuan, tidak memiliki tujuan investasi yang jelas, mengikuti tren, hingga mengambil keputusan tanpa memahami risiko. Namun, memahami teori dan menerapkannya ketika uang kita sendiri sedang terancam adalah dua hal yang berbeda. Seseorang mungkin memahami pentingnya investasi jangka panjang ketika pasar sedang tenang. Ia mungkin juga mengetahui bahwa investasi memiliki risiko dan bahwa harga aset dapat naik maupun turun. Tetapi, ketika portofolionya turun 10%, 15%, atau bahkan lebih, pengetahuan tersebut belum tentu cukup untuk membuatnya tetap tenang.
Di sinilah gejolak pasar menjadi ujian nyata. Bukan hanya ujian terhadap kualitas investasi, tetapi juga terhadap perilaku, emosi, dan kesiapan finansial kita.

Bayangkan ada 4 (empat) orang membaca berita yang sama: IHSG turun tajam, investor asing melakukan penjualan, dan prospek pasar sedang dipenuhi ketidakpastian.
Keempat orang ini menghadapi informasi yang sama, tetapi memiliki kondisi keuangan, pengalaman, dan respons emosional yang berbeda. Karena itu, tidak ada satu respons investasi yang otomatis benar untuk semua orang.
Investor yang belum berinvestasi tidak harus segera membeli. Investor pemula tidak harus langsung keluar dari pasar. Investor yang sedang stres tidak harus memaksakan diri untuk bertahan. Dan investor yang tenang pun tidak boleh berasumsi bahwa ia tidak memiliki risiko. Keputusan yang tepat harus dimulai dari kondisi dan tujuan masing-masing, bukan hanya dari apa yang sedang dilakukan pasar.
Dalam behavioral finance, terdapat beberapa konsep yang membantu menjelaskan mengapa keputusan finansial kita dapat berubah ketika pasar sedang bergejolak.
Manusia cenderung merasakan kerugian lebih kuat daripada kesenangan dari keuntungan dengan jumlah yang sama.
Bayangkan seseorang memperoleh keuntungan Rp10 juta. Ia tentu senang. Namun, ketika kemudian kehilangan Rp10 juta, rasa kecewa yang muncul bisa terasa jauh lebih besar daripada kebahagiaan sebelumnya. Akibatnya, ketika nilai investasi turun, sebagian orang ingin segera menjual agar rasa cemasnya berhenti.
Masalahnya, keputusan tersebut belum tentu menyelesaikan persoalan. Bisa saja penjualan memang diperlukan karena risiko sudah tidak sesuai. Namun, bisa juga keputusan itu hanya didorong oleh keinginan menghentikan rasa tidak nyaman. Pertanyaan pentingnya bukan hanya berapa besar kerugian yang kita lihat, tetapi mengapa kita ingin mengambil keputusan sekarang.
Ketika pasar bergejolak, berita dan media sosial dipenuhi berbagai pendapat. Ada yang mengatakan pasar akan jatuh lebih dalam, ada yang menyarankan membeli saat harga turun, dan ada yang memprediksi pemulihan segera terjadi. Ketika melihat banyak orang mengambil tindakan yang sama, kita bisa merasa bahwa mengikuti mereka adalah pilihan paling aman. Padahal, keputusan mayoritas tidak selalu sesuai dengan kondisi pribadi kita.
Orang yang menjual mungkin sedang membutuhkan uang untuk kebutuhan mendesak. Orang yang membeli mungkin memiliki dana menganggur dan jangka waktu investasi yang panjang. Orang lain mungkin sedang mengurangi risiko karena kondisi portofolionya terlalu terkonsentrasi.
Kita tidak selalu mengetahui alasan di balik keputusan mereka.
Mengikuti tindakan orang lain tanpa memahami konteksnya dapat membuat kita mengambil risiko yang sebenarnya tidak sesuai dengan kondisi finansial sendiri.
Ketika pasar turun selama beberapa hari, kita cenderung membayangkan penurunan akan berlanjut. Sebaliknya, setelah pasar naik tajam, kita bisa merasa bahwa pemulihan sudah dimulai. Padahal, pergerakan beberapa hari tidak cukup untuk memastikan arah pasar berikutnya.
Rebound setelah penurunan tajam bukan bukti bahwa semua masalah sudah selesai. Demikian pula, penurunan besar tidak otomatis berarti pasar akan terus jatuh. Investor perlu membedakan fakta yang sudah terjadi dengan perkiraan mengenai masa depan.
Keduanya penting, tetapi keduanya tidak sama.

Salah satu ungkapan yang sering muncul ketika pasar terkoreksi adalah buy the dip, yaitu membeli ketika harga turun. Secara prinsip, membeli aset berkualitas pada harga yang menarik memang dapat menjadi strategi investasi. Namun, ada satu persoalan yang sering diabaikan: harga turun tidak otomatis berarti aset tersebut sudah murah. Harga saham dapat turun karena kepanikan sesaat. Tetapi harga juga dapat turun karena prospek bisnis memburuk, tata kelola dipertanyakan, risiko meningkat, atau perubahan kondisi pasar memengaruhi nilai wajarnya. Karena itu, kita perlu membedakan setidaknya tiga hal.
Bahkan ketika sebuah aset terlihat menarik, kita tetap perlu mempertimbangkan apakah kita mampu menanggung risiko jika harganya kembali turun. Tidak ada yang dapat memastikan kapan pasar mencapai titik terendah. Karena itu, strategi membeli secara bertahap pun harus dilakukan berdasarkan rencana, bukan sekadar berharap bahwa harga akan segera naik.
Menjual juga tidak selalu berarti menyerah. Jika tujuan berubah, dana akan segera dibutuhkan, atau risiko sudah tidak sesuai dengan kemampuan finansial, penyesuaian portofolio bisa menjadi keputusan yang rasional. Yang perlu dihindari adalah membeli hanya karena takut kehilangan peluang, atau menjual hanya karena takut melihat kerugian.
Ada satu aspek yang lebih mendasar daripada kemampuan menebak arah pasar: kondisi keuangan pribadi. Bayangkan 2 (dua) investor sama-sama mengalami penurunan portofolio sebesar 15%.
Walaupun persentase penurunan mereka sama, tekanan yang mereka hadapi sangat berbeda.
Investor pertama mungkin memiliki keleluasaan untuk mengevaluasi situasi tanpa harus segera menjual. Investor kedua mungkin terpaksa mencairkan investasinya pada waktu yang tidak menguntungkan karena kebutuhan hidup tidak bisa ditunda. Inilah mengapa perencanaan keuangan tidak dapat dipisahkan dari investasi. Dana darurat bukan hanya berfungsi untuk menghadapi kehilangan pekerjaan atau biaya kesehatan. Dana tersebut juga dapat mengurangi kemungkinan seseorang terpaksa menjual aset investasi ketika pasar sedang turun. Demikian pula, memisahkan dana jangka pendek dari investasi jangka panjang dapat membantu kita menghindari situasi ketika kebutuhan hidup sehari-hari bergantung pada kondisi pasar.
Kesiapan finansial memberikan kita pilihan. Sebaliknya, kondisi keuangan yang rapuh dapat memaksa kita mengambil keputusan pada waktu yang paling tidak menguntungkan.
Ketika pasar bergejolak, kita tidak selalu membutuhkan prediksi baru. Terkadang, kita justru membutuhkan pertanyaan yang lebih baik.
Sebelum membeli, menjual, atau mengubah strategi investasi, cobalah bertanya kepada diri sendiri:
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak akan memberi kita kepastian mengenai arah pasar. Namun, pertanyaan tersebut dapat membantu kita memastikan bahwa keputusan diambil berdasarkan alasan yang jelas, bukan semata-mata karena emosi.

Pasar keuangan dipengaruhi oleh begitu banyak faktor: kebijakan ekonomi, kondisi geopolitik, arus modal, kinerja perusahaan, suku bunga, nilai tukar, dan ekspektasi investor.
Bahkan investor profesional pun tidak selalu mampu memprediksi arah pasar secara konsisten. Karena itu, mengharapkan kepastian dari pasar yang pada dasarnya tidak pasti merupakan strategi yang berbahaya. Yang dapat kita lakukan adalah membangun fondasi keuangan yang lebih kuat: memiliki dana darurat, mengelola utang, memahami instrumen investasi, melakukan diversifikasi, menentukan tujuan yang jelas, dan mengevaluasi portofolio secara berkala.
Kita juga perlu menerima bahwa investasi tidak selalu menghasilkan keuntungan dalam jangka pendek. Jika suatu instrumen memiliki risiko fluktuasi, kita harus memahami konsekuensinya sebelum menempatkan uang di sana. Namun, menerima risiko bukan berarti mengabaikannya. Investor tetap perlu menilai apakah risiko tersebut masih wajar dan sesuai dengan kondisinya. Dan yang terpenting, jangan menganggap bahwa tetap bertahan selalu benar atau bahwa menjual selalu salah. Keduanya dapat menjadi keputusan yang baik maupun buruk, tergantung pada alasan dan situasinya.
Gejolak pasar mengingatkan kita bahwa investasi bukan sekadar persoalan angka, grafik, atau potensi keuntungan. Investasi juga merupakan persoalan perilaku manusia. Kita bisa memiliki produk investasi yang baik, tetapi mengambil keputusan yang buruk karena panik. Kita juga bisa memiliki pengetahuan yang cukup, tetapi mengabaikannya ketika melihat orang lain memperoleh keuntungan atau ketika nilai investasi kita menurun. Karena itu, ketika pasar sedang bergejolak, jangan hanya bertanya, “Kapan pasar akan pulih?” Tanyakan juga, “Apakah kondisi keuangan saya cukup kuat untuk menghadapi ketidakpastian ini? Apakah saya memahami risiko investasi saya? Dan apakah keputusan yang akan saya ambil benar-benar sesuai dengan tujuan keuangan saya?”
Kita tidak perlu menghilangkan seluruh rasa takut untuk menjadi investor yang lebih baik. Kita hanya perlu memastikan bahwa rasa takut tidak menjadi satu-satunya dasar pengambilan keputusan. Pada akhirnya, keberhasilan finansial bukan hanya tentang seberapa banyak uang yang dapat kita hasilkan ketika pasar sedang bagus. Keberhasilan finansial juga tentang kemampuan kita menjaga disiplin, mengevaluasi risiko, dan mengambil keputusan yang bijaksana ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan.
Kita tidak dapat mengendalikan pasar. Tetapi kita dapat mempersiapkan diri, mengendalikan proses pengambilan keputusan, dan memastikan bahwa setiap keputusan finansial tetap memiliki tujuan.
Karena dalam dunia investasi, salah satu aset terpenting yang harus kita kelola bukan hanya uang yang kita miliki, tetapi juga cara kita berpikir ketika menghadapi ketidakpastian.
Artikel ini merupakan bagian dari topik yang diangkat dalam program “Smart Financial Wisdom”, podcast edukasi keuangan bersama Smart FM Jakarta yang membahas isu ekonomi, personal finance, dan psychology of money dengan pendekatan yang ringan, relevan, dan berbasis data. Tonton siarannya di link ini: “Tonton siaran-nya di YouTube Smart Financial Wisdom“
Setiap individu dan keluarga memiliki struktur keuangan yang berbeda, dan keputusan yang tepat tidak selalu sama untuk semua orang. Jika Anda ingin memahami posisi keuangan Anda saat ini, serta langkah yang paling tepat untuk menjaga dan mengembangkan keuangan Anda, diskusi yang terarah dapat menjadi langkah awal yang baik, team Lintar Financial siap membantu Anda melihat gambaran yang lebih utuh dan terstruktur. Silakan hubungi kami melalui email, whatsApp, atau instagram kami.
Founder Lintar Financial
Agus Helly adalah seorang Certified Financial Planner dan financial educator dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di industri keuangan. Ia memiliki latar belakang profesional di perbankan dan asuransi internasional seperti Citibank, Standard Chartered Bank, Tokio Marine, dan Commonwealth Bank.
Agus Helly adalah award-winning mentor selama 5 tahun berturut-turut untuk program pelatihan & sertifikasi perencanaan keuangan Indonesia yang disupport oleh Financial Planning Standard Board (FPSB) Indonesia. Melalui Lintar Financial, Agus Helly berfokus pada edukasi keuangan, pendampingan perencanaan keuangan, mentoring sertifikasi profesi, serta advisory bagi individu, profesional, keluarga, dan organisasi agar memiliki struktur keuangan yang lebih sehat, sadar, dan berorientasi jangka panjang.
Upgrade pemahaman keuanganmu dengan bimbingan mentor berpengalaman dan materi yang mudah dipahami. Mulai langkahmu menuju sertifikasi profesional sekarang.





