

Pernahkah kamu bertanya mengapa ada orang yang sangat takut mengeluarkan uang, meskipun sebenarnya mampu? Mengapa ada orang yang terus bekerja keras mengejar uang, tetapi tetap merasa hidupnya belum cukup? Mengapa ada orang yang selalu membeli sesuatu demi terlihat berhasil? Dan mengapa ada juga orang yang justru menghindar ketika diajak bicara soal uang, malas melihat rekening, atau merasa stres setiap kali membahas kondisi keuangan?
Hubungan manusia dengan uang memang unik dan berbeda-beda. Mungkin masih banyak orang yang tidak menyadari bahwa uang sebenarnya hanyalah alat, bukan tujuan utama. Tetapi dalam kehidupan nyata, uang bisa berubah menjadi sumber rasa aman, simbol kesuksesan, alat validasi, bahkan sumber kecemasan. Dan menariknya, sebagian besar keputusan finansial kita ternyata tidak sepenuhnya rasional. Banyak di antara keputusan finansial kita dipengaruhi oleh pola pikir bawah sadar tentang uang yang sudah terbentuk sejak lama, dan mungkin tidak kita sadari. Konsep ini dikenal sebagai Money Scripts.
Money Scripts adalah keyakinan bawah sadar tentang uang yang terbentuk dari berbagai hal, yaitu pengalaman masa kecil, pola asuh keluarga, lingkungan, budaya, pengalaman hidup, bahkan trauma finansial. Tanpa sadar, belief ini memengaruhi cara kita mencari uang, cara kita menggunakan uang, cara kita menabung, berinvestasi, bahkan cara kita mengambil keputusan hidup. Karena itu, sering kali masalah keuangan sebenarnya bukan hanya soal menghitung (matematika), tetapi soal psikologi.
Dua orang dengan income yang sama bisa memiliki perilaku finansial yang sangat berbeda. Bukan karena salah satunya lebih pintar, tetapi karena mereka memiliki “hubungan emosional” yang berbeda terhadap uang.
Konsep Money Scripts pertama kali diperkenalkan oleh Brad Klontz dan Ted Klontz dalam bidang Financial Psychology. Mereka menemukan bahwa banyak keputusan finansial manusia ternyata dipengaruhi oleh belief bawah sadar tentang uang yang terbentuk sejak kecil melalui pengalaman keluarga, lingkungan, budaya, kondisi ekonomi, dan pengalaman emosional mereka terhadap uang. Konsep ini bukan sekadar opini atau teori populer di media sosial. Money Scripts telah diteliti dalam berbagai studi di bidang psikologi keuangan dan financial therapy. Salah satu penelitian awal yang cukup dikenal dipublikasikan dalam Journal of Financial Therapy, yang menemukan adanya hubungan antara pola belief tentang uang dengan: perilaku finansial, income, net worth, utang, hingga financial stress seseorang. Bahkan kemudian dikembangkan alat ukur bernama Klontz Money Script Inventory (KMSI) untuk membantu mengidentifikasi kecenderungan pola money script seseorang.
Melalui penelitian mereka, muncul empat pola utama money scripts, yaitu:

“Kalau saya punya lebih banyak uang, hidup saya pasti lebih bahagia.”
Pernah melihat seseorang yang terus mengejar income lebih tinggi, selalu ingin lebih banyak, sulit berhenti bekerja, tetapi tetap terlihat tidak tenang? Inilah salah satu contoh money worship (arti harfiah: meng-agungkan uang). Orang dengan kepribadian money worship percaya bahwa uang adalah sumber utama kebahagiaan dan rasa aman. Masalahnya, ketika income naik, ekspektasi hidup juga ikut naik. Akhirnya rasa “cukup” terus bergerak menjauh.
Contoh sederhana adalah ketika ada orang yang berpikir, “Kalau income saya Rp10 juta per bulan, saya pasti tenang.” Tetapi ketika income benar-benar naik, muncul target baru lagi. Dan lagi. Dan lagi. Karena ternyata yang dicari bukan sekadar uang. Tetapi rasa aman emosional.

“Nilai diri saya terlihat dari lifestyle dan pencapaian finansial.”
Mengapa ada orang yang merasa harus punya mobil tertentu, nongkrong di tempat tertentu, memakai brand tertentu, atau terlihat sukses di media sosial? Mungkin kita adalah orang itu, tetapi kita menyangkalnya. Atau setidaknya, kita tidak sadar. Buat bagi sebagian orang, uang bukan hanya alat, tetapi identitas. Orang dengan kepribadian money status, akan melihat status seseorang itu dari uangnya, mudah dipengaruhi oleh pandangan masyarakat, cenderung menggunakan uang untuk validasi, dan gampang tertekan keuangan. Mereka merasa lebih dihargai ketika terlihat berhasil secara finansial. Dan di era media sosial, tekanan ini menjadi jauh lebih besar. Hari ini banyak orang tidak hanya ingin hidup nyaman, tetapi juga ingin terlihat sukses. Akibatnya lifestyle dipaksakan, pengeluaran membesar, bahkan ada yang rela berutang demi image. Padahal sering kali yang dicari bukan barangnya, tetapi rasa diterima dan diakui. Pertanyaan yang perlu kita pikirkan adalah: apakah kita membeli sesuatu karena benar-benar membutuhkannya, atau karena ingin merasa lebih bernilai?

“Saya harus sangat hati-hati terhadap uang.”
Ini tipe yang sering dianggap paling disiplin secara finansial. Mereka biaanya rajin menabung, sangat hati-hati mengeluarkan uang, memikirkan masa depan, dan tidak suka mengambil risiko. Perilaku ini sekilas terlihat sangat baik. Tetapi kalau terlalu ekstrem, money vigilance bisa berubah menjadi financial anxiety. Ada orang yang sebenarnya mampu, tetapi merasa bersalah setiap kali mengeluarkan uang. Mau liburan takut boros. Mau menikmati hasil kerja keras merasa tidak aman. Mau investasi takut rugi. Karena di balik semua kehati-hatian itu, sering kali ada rasa takut kehilangan. Biasanya pola ini terbentuk dari pengalaman hidup susah, trauma finansial, atau lingkungan yang penuh ketidakpastian. Akibatnya hidup terasa seperti mode survival terus-menerus.

“Uang itu sumber masalah.”
Ini tipe yang jarang disadari. Ada orang yang sebenarnya ingin kondisi finansial lebih baik, tetapi secara bawah sadar justru menghindari uang. Mereka tidak nyaman kalau diajak bicara keuangan, malas melihat rekening, menunda budgeting, tidak nyaman membahas uang bersama pasangan atau keluarga, atau mempunyai pandangan kalau orang kaya pasti negatif. Mengapa hal ini bisa terbentuk? Mereka memiliki kepercayaan dan pandangan seperti, “uang membuat orang berubah atau jahat,” “orang kaya biasanya serakah,” atau “saya tidak pantas punya banyak uang.” Akibatnya, mereka sulit membangun hubungan yang sehat dengan uang. Padahal uang sendiri sebenarnya netral. Yang menentukan baik atau buruk adalah bagaimana manusia menggunakannya.
Jawabannya tidak ada yang sepenuhnya benar atau salah. Yang perlu kita pahami dan sadari adalah diri kita mempunyai kecenderungan money scripts yang mana sehingga kita bisa memperbaiki diri kita. Sebagian besar manusia memiliki kombinasi beberapa money scripts sekaligus. Masalah muncul ketika salah satunya terlalu dominan dan diam-diam mulai mengendalikan hidup kita. Karena pada akhirnya banyak masalah finansial bukan terjadi karena seseorang tidak pintar menghitung. Tetapi karena mereka belum memahami hubungan emosionalnya sendiri dengan uang.

Menariknya, banyak orang baru sadar tentang pola money script mereka setelah mengalami financial stress, terjadi konflik rumah tangga, burnout, atau merasa tidak pernah tenang soal uang. Padahal semakin cepat seseorang memahami pola pikir finansialnya, maka semakin besar peluang untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang. Di Lintar Financial, kami juga memiliki Money Script Assessment yang dapat membantu seseorang mengenali kecenderungan pola money script yang dimiliki. Karena langkah pertama menuju financial wellness sering kali bukan langsung soal investasi atau produk keuangan, tetapi memahami, “mengapa saya mengambil keputusan finansial seperti ini?”
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk belajar cara mencari uang, cara investasi, cara membangun aset. Tetapi sayangnya jarang bertanya: “Sebenarnya hubungan seperti apa yang saya miliki dengan uang?” Karena uang bukan hanya soal angka. Uang sering kali berkaitan dengan rasa aman, harga diri, pengalaman masa lalu, ketakutan, dan cara kita memandang kehidupan. Dan mungkin financial wellness yang sesungguhnya bukan hanya ketika kondisi keuangan kita membaik, tetapi ketika kita tidak lagi hidup sepenuhnya dikendalikan oleh rasa takut, gengsi, atau luka lama tentang uang. Karena tujuan akhir keuangan bukan sekadar memiliki lebih banyak. Tetapi hidup dengan lebih tenang, sadar, dan bermakna.
Setiap individu dan keluarga memiliki struktur keuangan yang berbeda, dan keputusan yang tepat tidak selalu sama untuk semua orang. Jika Anda ingin memahami posisi keuangan Anda saat ini, serta langkah yang paling tepat untuk menjaga dan mengembangkan keuangan Anda, diskusi yang terarah dapat menjadi langkah awal yang baik, team Lintar Financial siap membantu Anda melihat gambaran yang lebih utuh dan terstruktur. Silakan hubungi kami melalui email, whatsApp, atau instagram kami.
Founder Lintar Financial
Agus Helly adalah seorang Certified Financial Planner dan financial educator dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di industri keuangan. Ia memiliki latar belakang profesional di perbankan dan asuransi internasional seperti Citibank, Standard Chartered Bank, Tokio Marine, dan Commonwealth Bank.
Agus Helly adalah award-winning mentor selama 5 tahun berturut-turut untuk program pelatihan & sertifikasi perencanaan keuangan Indonesia yang disupport oleh Financial Planning Standard Board (FPSB) Indonesia. Melalui Lintar Financial, Agus Helly berfokus pada edukasi keuangan, pendampingan perencanaan keuangan, mentoring sertifikasi profesi, serta advisory bagi individu, profesional, keluarga, dan organisasi agar memiliki struktur keuangan yang lebih sehat, sadar, dan berorientasi jangka panjang.